|
MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi tugas
mata kuliah
Studi Al Qur’an
Dosen Pembimbing:
Prof. Dr. H. Moch Tolchah, M.Ag
Oleh :
EDWIN FIRMANSYAH (F02317072)
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2017
PENDIDIKAN KARAKTER DALAM
PERSPEKTIF ISLAM
EDWIN FIRMANSYAH
NIM
: F02317072
Kata
Kunci: Pendidikan, Karakter, Islam
Pendidikan semakin urgen untuk
diperhatikan, terutama pendidikan karakter bangsa. Pendidikan adalah sebagai
modal dasar bagi peserta didik untuk menghadapi dunianya kelak. Pendidikan yang
dimaksud adalah pendidikan yang utuh dan menyeluruh dengan mengedepankan tiga
aspek penting yaitu kognitif, psikomotorik, dan afektif. Pendidikan perlu
aplikatif memanusiakan manusia dengan tidak menitikberatkan pada penguasaan
satu aspek saja namun berimbang dan saling melengkapi, terutama aspek
pengembangan dan internalisasi karakter.
Pendidikan karakter adalah suatu upaya baru yang dicanangkan pemerintah
guna meraih dan menghasilkan generasi-genarasi masa depan yang prestatif dan
berbudi luhur. pendidikan
karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara
sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia
yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesame manusia,
lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan,
perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata karma,
budaya, dan adat istiadat.
Education is increasingly urgent to note,
especially character education of the nation. Education is as a basic capital
for learners to face the world someday. Education in question is a whole and
comprehensive education by promoting three important aspects of cognitive,
psychomotor, and affective. Education needs to be applicable to humanize human
beings by not focusing on the mastery of one aspect only but balanced and
complementary, especially aspects of character development and internalization.
Character education is a new effort
launched by the government to achieve and produce future generations that are
prestatif and virtuous. character education is a systematically designed and
executed effort to help learners understand the values of human behavior
associated with God Almighty, self, fellow human, environment, and nationality
embodied in thoughts, attitudes, feelings, words , and deeds based on norms of
religion, law, order karma, culture, and customs.
A.
Pendahuluan
Era globalisasi telah membawa dampak luas di belahan
bumi mana pun, tak terkecuali di negeri Indonesia. Dampak globalisasi
diibaratkan seperti pisau bermata dua, positif dan negatif memiliki konsekuensi
yang seimbang. Kompetisi, integrasi, dan kerjasama adalah dampak positif
globalisasi. Sedangkan dampak negatif antara lain lahirnya generasi instan,
dekadensi moral, konsumerisme, bahkan permisifisme.[1]
Selain itu dampak negatif lainnya adalah muncul tindakan kekerasan,
penyalahgunaan obat-obat terlarang, seks bebas, dan kriminalitas. Semua hal
negatif tersebut berujung pada hilangnya karakter bangsa.[2]
Gaya hidup hedonistik dan permisif di era
globalisasi sebagaimana banyak ditayangkan dalam telenovela dan sinetron pada
berbagai saluran televisi Indonesia, hanya mempercepat disorientasi dan dislokasi
keluarga dan rumah tangga.[3]
Akibatnya banyak anak tidak memiliki kebajikan dan inner beauty dalam karakternya, namun mengalami
kepribadian terbelah (split personality). Hal tersebut
juga berdampak terhadap banyaknya anak yang tidak patuh kepada orang tua,
secara frontal dapat dicontohkan seorang anak tega menghabisi orang tuanya
gara-gara permintaan sebuah sepeda motor yang tidak dituruti.[4]
Fenomena anak yang sering membantah dan berkeinginan menguasai orang dewasa
tersebut dapat menjadi candu layaknya narkoba.
Jika dilihat dalam konteks pendidikan banyak
perilaku tidak bermoral terjadi, antara lain kasus tawuran antar pelajar di
beberapa sekolah, beredarnya video mesum yang pelakunya adalah siswa,
penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang lainnya, bahkan beberapa
remaja putri rela menjual “kegadisan” demi untuk membeli handphone (HP),
membeli pakaian bagus atau mentraktir teman.[5]
Berdasarkan data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI, 2003)
menyatakan sebanyak 32% remaja usia 14 hingga 18 tahun di kota-kota besar
Indonesia (Jakarta, Surabaya, dan Bandung) pernah berhubungan seks. Kasus lain
berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN) hingga tahun 2008 pengguna
narkoba di Indonesia mencapai 3,2 juta orang. Dari jumlah ini 32% adalah
pelajar dan mahasiswa.[6]
Kondisi tersebut menggambarkan tentang pentingnya gagasan tentang diskursus
pendidikan budi pekerti atau karakter untuk direkonseptualisasi kembali. Karena
terlihat pendidikan nasional pada setiap jenjang, khususnya jenjang menengah
dan tinggi “telah gagal” dalam membentuk peserta didik yang memiliki akhlak,
moral, dan budi pekerti yang baik. Pendidikan semakin urgen untuk diperhatikan,
terutama pendidikan karakter bangsa. Pendidikan adalah sebagai modal dasar bagi
peserta didik untuk menghadapi dunianya kelak. Pendidikan yang dimaksud adalah
pendidikan yang utuh dan menyeluruh dengan mengedepankan tiga aspek penting
yaitu kognitif, psikomotorik, dan afektif. Pendidikan perlu aplikatif
memanusiakan manusia dengan tidak menitikberatkan pada penguasaan satu aspek
saja namun berimbang dan saling melengkapi, terutama aspek pengembangan dan
internalisasi karakter.
B. Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter adalah
suatu upaya baru yang dicanangkan pemerintah guna meraih dan menghasilkan generasi-genarasi
masa depan yang prestatif dan berbudi luhur. Pendidikan karakter berasal dari
dua suku kata, pendidikan dan karakter. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pendidikan adalah suatu proses pengubahan
sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia
melalui upaya pengajaran, pelatihan dan pendidikan. Sedangkan istilah
karakter secara harfiah berasal dari bahasa Latin “charakter”, ialah
sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku, seperti
watak, tabiat, sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti, kepribadian atau akhlak yang
menjadi ciri khas seseorang. Pendidikan pada
hakikatnya adalah usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana dalam upaya
mengembangkan segala potensi manusia untuk memiliki kekuatan spiritual,
kecerdasan, dan akhlak mulia sehingga tumbuh dewasa dan sempurna sebagai bekal
yang diperlukan dalam kehidupan masyarakat, bangsa, dan Negara.[7]
Secara
bahasa karakter berasal dari bahasa Yunani karasso yang
berarti cetak biru, format dasar, atau sidik seperti dalam sidik jari. Pendapat
lain menyatakan berasal dari kata charassein yang
berarti membuat tajam atau membuat dalam. Secara istilah karakter dipahami
sebagai kondisi rohaniah yang belum selesai. Sehingga memungkinkan untuk
dibentuk dan dikembangkan menjadi lebih baik. Agar kondisi rohaniah menjadi
lebih baik dibangun melalui kesadaran dalam diri individu.
Dari pengertian tentang pendidikan dan karakter di
atas dapat dipahami bahwa pengertian pendidikan karakter adalah serangkaian
usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana sehingga memunculkan kesadaran
dalam diri individu untuk mengembangkan segala potensi manusia sehingga
memiliki kekuatan spiritual, kecerdasan, dan akhlak mulia menuju kedewasaan dan
kesempurnaan sebagai bekal yang diperlukan dalam menjalani kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Maka pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang
dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik
memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha
Esa, diri sendiri, sesame manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud
dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan
norma-norma agama, hukum, tata karma, budaya, dan adat istiadat.
C.
Urgensi Pendidikan Karakter
Arnold Toynbee,
sejarawan ternama, pernah mengungkapkan dari dua puluh satu peradaban dunia
yang dapat dicatat, sembilan belas hancur bukan karena penaklukan dari luar,
melainkan karena pembusukan moral dari dalam yaitu karena lemahnya karakter.
Pernyataan Arnold tampaknya telah lama disadari para founding father bangsa Indonesia, jauh-jauh hari
para genius pendiri bangsa Indonesia telah menyadari betapa urgen pembangunan
karakter. Hal ini terlihat dari lagu kebangsaan Indonesia Raya, di dalam lirik
lagu tersebut ditandaskan pentingnya perintah untuk “bangunlah jiwanya” baru
kemudian “bangunlah badannya”. Seruan ini mengisyaratkan pesan bahwa membangun
jiwa lebih diutamakan daripada membangun badan, membangun karakter mesti lebih
diperhatikan daripada sekadar membangun hal-hal fisik semata.[8]
Pentingnya membangun
jiwa (karakter) harus disertai pengetahuan dan pemahaman tentang moral atau
karakter itu sendiri. Hal ini dipahami bahwa pertautan pengetahuan moral (moral judgement) dengan perilaku aktual (actual conduct) dalam situasi konkret (moral situations) adalah benar bahwa pengetahuan dan
pemahaman moral adalah prasyarat bagi munculnya tindakan moral.[9]
Pada intinya
pendidikan karakter sangat urgen diimplementasikan sebagai upaya pembentukan
insan kamil yang memiliki kepekaan sosial, akhlak karimah, dan mampu berperan
aktif dalam menciptakan masyarakat yang damai dan kondusif serta bangsa yang
maju dan bermartabat. Pendidikan karakter harus diletakkan secara keseluruhan
dengan pembangunan karakter bangsa (nation and character building)
dan dalam hal ini lembaga pendidikan memiliki peran penting sebagai bagian
pembangunan bangsa.[10]
D. Fungsi dan Tujuan Pendidikan Karakter
Berbicara tentang fungsi dan tujuan pendidikan
karakter, hal ini tidak terlepas dari fungsi dan tujuan pendidikan nasional
yang tertuang secara apik dan bijaksana dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional. Termaktub dalam bab II pasal 3 dinyatakan
pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yag bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis
serta bertanggung jawab.
Fungsi dan tujuan pendidikan karakter memiliki andil
yang sangat besar dalam menentukan arah dan sebagai pedoman internalisasi
karakter. Dengan fungsi dan tujuan tersebut diikhtiarkan terwujud insan kamil
yang mempunyai posisi mulia di sisi Allah SWT. Secara garis besar pendidikan
karakter merupakan jalan dalam mewujudkan masyarakat beriman dan bertaqwa yang
senantiasa berjalan di atas kebenaran dengan menjunjung tinggi nilai-nilai
keadilan, kebaikan, musyawarah, serta nilai-nilai humanisme yang mulia.
Tujuan
dari pendidikan karakter menurut Islam yang tidak
lain adalah untuk menjadikan manusia yang berakhlak mulia. Dalam hal
ini yang menjadi tolok ukur adalah akhlak Nabi Muhammad SAW dan yang menjadi
dasar pembentukan karakter adalah al-Quran. Tetapi kita kita harus menyadari
tidak ada manusia yang menyamai akhlaknya dengan Nabi Muhammad SAW. Al-Quran
adalah petunjuk bagi umat Islam. Seperti yang telah disinggung di atas bila
kita hendak mengarahkan pendidikan kita dan menumbuhkan karakter yang kuat pada
anak didik, kita harus mencontoh karakter Nabi Muhammad SAW yang memiliki
karakter yang sempurna.
Firman
Allah dalam QS. Al Luqman 31 : 12
وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
Artinya: Dan Sesungguhnya telah Kami
berikan hikmat kepada Luqman, Yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan
Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk
dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah
Maha Kaya lagi Maha Terpuji".[11]
Dalam ayat tersebut Allah menerangkan
bahwa Allah menganugrahkan kepada lukman hikmah ,yaitu perasaan yang
halus ,akal pikiran dan pengetahuan yang dengan itu ia telah sampai kepada
pengetahuan yang hakiki dan jalan yang benar yang dapat menyampaikanya kepada
kebahagiaan yang abadi.
Ayat tersebut juga menegaskan kepada
kita bahwa rasa syukur bukan semata-mata kita bersyukur kepada Allah akan
tetapi sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri, karena Allah tidak
akan merasa rugi jika kita tidak bersyukur padanya melainkan kita lah yang
rugi.dan ayat tersebut juga sebagai tanda bahwa lukman adalah hamba Allah yang
selalu taat kepadanya, merasakan kebesaran dan kekuasaan Nya di alam semesta
ini.
Firman
Allah dalam QS. Al Luqman 31 : 13
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Artinya:
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi
pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah,
Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang
besar".[12]
Ayat tersebut menjelaskan
bahwa mempersekutukan Allah dan rasulnya dikatakan kedzaliman yang
besar karena perbuatan ini menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, yaitu
menamakan nikamat dan karunia itu,dalam hal ini menyamakan Allah SWT sebagai
sumber nikmat dan karunia dengan berhala atau patung-patung yang
tidak bisa berbuat apapun. Dikatakan bahwa perbuatan itu adalah kedzaliman yang
besar, karena yang disamakan itu ialah Allah pencipta dan penguasa alam
semesta, yang seharusnya semua makhluk mengabdi dan menghambakan diri kepada
Nya.
Serta dapat dipahami bahwa diantara
kewajiban ayah adalah memberikan nasihat dan pelajaran, sehingga anak-anak nya
itu dapat menempuh jalan yang benar ,dan menjauhkan diri dari kesesatan,anak
adalah sambungan hidup dari orang tua nya ,cita-cita yang tidak mungkin dapat
di capai orang tua selama hidup di dunia.
Selanjutnya Luqman mengajarkan kepada
putranya tentang kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan kepada Allah.
Kewajiban pertama: mendirikan shalat. Ibnu Katsir menafsirkan aqim ash-
shalah dengan melaksanakannya tepat waktu dan sesuai dengan
ketentuan-ketentuan, syarat-syarat, dan rukun-rukunnya.
Sedangkan ash-Shabuni menambahkan,
yaitu dengan memelihara kekhusyukannya. Kewajiban kedua: amar makruf nahi
mungkar, yakni memerintahkan kepada manusia untuk melakukan setiap kebaikan dan
keutamaan serta melarang mereka dari setiap perbuatan buruk.
Kewajiban ketiga: bersabar, yakni bersabar terhadap gangguan, rintangan, ujian,
bahaya, dan bencana yang menimpa karena menjalankan amar makruf nahi
mungkar. Ibn Abbas berkata, “Di antara hakikat iman adalah bersabar.”
Firman
Allah dalam QS. Al Luqman 31 : 14
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Artinya:
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-
bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah,
dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu
bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.[13]
Ayat tersebut menegaskan kepada
manusia agar berbakti kepada kedua orang tuanya, dengan mencontoh dan
melaksanakan haknya pada ayat lain juga Allah memerintahkan hak demikian
sebagai contoh dalam Q.S. Al-Isra’ :23
۞ وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
Artinya:
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan
hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah
seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam
pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya
Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah
kepada mereka Perkataan yang mulia.[14]
Dan menjelaskan bahwa
manusia diperintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya sebagai
wujud rasa syukur atas pemeliharaan keduanya, terutama ibu. Dia telah
mengandungnya sejak janin di dalam kandungan; setiap bertambah usia dan besar
janin, semakin bertambah lemahlah dia dan semakin bertambah sulit pula (untuk
bergerak). Demikian pula ketika melahirkan, seorang ibu dengan susah-payah
mengeluarkan bayinya dari rahimnya. Setelah itu, ibu menyusui bayinya selama
dua tahun. Ibn Jaza menafsirkan:
Ungkapan hamalathu ummuhu
wahn[an] ‘alâ wahnin wa fishâluhu fî ‘âmayni adalah untuk menjelaskan bahwa
hak ibu lebih besar dari pada bapak. Akan tetapi, rasa syukur kepada Allah
harus di atas segalanya. Sebab, kepada-Nya- lah tempat kembali seseorang,
termasuk kedua orangtuanya. Allah-lah yang memberi balasan yang baik
kepada orang yang berbuat baik dan balasan yang buruk kepada orang yang berbuat
buruk. Karena itu, sekalipun keduanya telah bersusah-payah memeliharamu, kalau
mereka mengajakmu pada kekufuran dan perbuatan syirik, janganlah kamu
mengikutinya, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada
Allah. Hanya saja, sekalipun demikian, engkau tetap menggauli mereka dengan
baik serta senantiasa berlaku sopan dan hormat kepada mereka.
Kemudian dalam ayat Q.S
Lukman:14 ini juga hanya di sebutkan apa sebab-sebab di
perintahkanya berbut baik kepada ibu,tidak di sebutkan apa sebabanya seorang
anak harus menaati dan berbuat baik kepada bapak nya.hal ini menunjukan bahwa
kesukaran dalam mengandung ,memelihara dan mendididk anaknya jauh lebih berat
bila di bandingkan dengan yang di alami bapak.
Nabi sendiri memerintahkan agar
seseorang anak lebih mendahulukan berbuat baik kepada ibunya dari pada kepada
bapak nya.adapun tentang lamanya menyusui anak, maka Al-quran memerintahkan
agar seorang ibu menyusui anaknya paling lama dalam masa dua tahun sebagai
mana yang di terangkan ayat tersebut. Pada akhir ayat ini Allah SWT
memperingatkan bahwa manusia akan kembali padaNya bukan kepada
orang lain. Pada saat itu dia akan memberikan pembalasan yang adil
kepada hamba-hambaNya .[15]
E.
Prinsip Pendidikan Karakter
Sukses pendidikan karakter berdasar prinsip
bergantung kepada semua elemen pendidikan, dari individu secara pribadi,
keluarga, seluruh personel sekolah, dan masyarakat. Tanpa adanya sinergi dari
semua elemen, pendidikan karakter sulit terealisasikan. Prinsip yang berbeda
sebagai langkah awal dari membangun karakter, hal ini dapat dilakukan dengan
mempertimbangkan rumus 5 + 3 + 3 atau 11 kebiasaan sebagai berikut :
Lima sikap dasar
1.
Membangun sikap dasar dan
tulus dengan berani mengatakan apa yang benar adalah benar dan yang salah
adalah salah.
2.
Sikap yang terbuka yang
merefleksikan kebersihan luar dalam.
3.
Berani mengambil resiko
dan bertanggungjawab yang ditunjukkan dengan membela kebenaran dan keadilan.
4.
Konsisten terhadap
komitmen dengan selalu menepati janji, perkataan harus sesuai dengan perbuatan.
5.
Sikap bersedia berbagi (sharing) yang menampilkan mentalitas berkelimpahan (abundance mentality).
Tiga syarat
1.
Dengan niat yang bersih
untuk mengawali setiap pekerjaan (nawaitu).
2.
Tidak mendahului kehendak
Tuhan agar apa yang kita rencanakan mendapat ridho-Nya.
3.
Bersyukur kepada-Nya atas
hasil apa pun yang kita dapat, baik yang kita senangi maupun yang tidak kita
senangi dan inginkan.[16]
Tiga cara
1.
Mencanangkan hasrat untuk
berubah melalui doa dan ibadah, karena hakikat dari doa adalah tuntunan
terhadap diri sendiri untuk mewujudkan perubahan.
2.
Mewujudkan perubahan
dengan memanfaatkan empat anugerah Ilahi pada manusia (self awarness, consciousness, imagination, dan independent will).
3.
Siap menjadi suri
tauladan dalam menjalani amanah Tuhan, yaitu manusia sebagai khalifah di muka
bumi. Menjadi khalifah tidak dimungkinkan tanpa memberi suri tauladan.
Dari rumus di atas dapat dijelaskan lima sikap dasar
merupakan awal dari pembangunan karakter dan jati diri kita. Kemudian dari lima
dasar tersebut yang telah memenuhi tiga syarat agar menjadi satu kesatuan yang
utuh harus dilakukan secara eksplisit dengan melengkapi tiga cara. Setelah
semua terpenuhi akan terwujud insan kamil yang berkepribadian dan berakhlak
karimah. Insan tersebut bertugas menjalankan amanah dari Allah SWT sebagai
khalifah yang mengelola dan memakmurkan bumi.
Prinsip-prinsip pendidikan karakter adalah sebagai
pegangan dan acuan dalam pelaksanaan pendidikan karakter. Prinsip-prinsip
tersebut bukan hal paten, sehingga dapat diubah sesuai dengan tujuan lokalitas
masing-masing daerah. Hal yang menjadi tolok ukur adalah prinsip tersebut
sesuai dengan fungsi dan tujuan luhur pendidikan karakter.
F.
Jenis Pendidikan Karakter
Terdapat berbagai jenis pendidikan karakter dan ada empat
jenis karakter yang dikenal dan dilaksanakan dalam proses pendidikan, yaitu
sebagai berikut[17]:
1. Pendidikan
karakter berbasis nilai religius yang merupakan kebenaran wahyu Tuhan
(konservasi moral).
2. Pendidikan
karakter berbasis nilai budaya, misalnya berupa budi pekerti, pancasila,
apresiasi sastra, keteladanan tokoh sejarah, dan lainnya.
3. Pendidikan
karakter berbasis lingkungan (konservasi lingkungan).
4. Pendidikan
karakter berbasis potensi diri, yaitu sikap pribadi, hasil proses kesadaran
pemberdayaan potensi diri yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan
(konservasi humanis).
Sedangkan dalam tema Islam, secara definitif
karakter memiliki makna yang hampir sama dengan akhlak. Dalam perspektif ilmu,
karakter terbagi menjadi empat macam yaitu:
1. Karakter
falsafi atau karakter teoritis, yaitu menggali kandungan Al-Qur’an dan
As-Sunnah secara mendalam, rasional, dan kontemplatif untuk dirumuskan sebagai
teori dalam bertindak.
2. Karakter amali, artinya akhlak praktis, yaitu akhlak dalam arti
yang sebenarnya, berupa perbuatan atau sedikit bicara, banyak bekerja.
3. Karakter fardhi atau akhlak individu, yaitu perbuatan
seorang manusia yang tidak terkait dengan orang lain.
4. Karakter
kelompok atau akhlak jamaah, yaitu tindakan yang disepakati bersama-sama,
misalnya akhlak organisasi, partai politik, masyarakat yang normatif, dan
lainnya.[18]
Pembagian jenis-jenis pendidikan karakter tersebut
menjadikan pendidikan senantiasa hidup di level individu, kelompok, sosial,
lingkungan, peradaban, dan agama. Pembagian jenis karakter bertujuan untuk
memudahkan dalam pemahaman pendidikan karakter.[19]
G.
Peran Pendidikan Karakter
Terdapat beberapa elemen penting yang
berperan dalam pelaksanaan pendidikan karakter. Antara lain keluarga, semua
komponen sekolah, pemimpin, dan media massa. Keluarga berperan sebagai basis
pendidikan karakter, keluarga merupakan komunitas pertama yang mengajarkan
manusia sejak dini tentang baik buruk, pantas tidak pantas, dan benar salah.
Keluarga merupakan rumah pertama seorang manusia belajar tata nilai atau moral.
Pada keluarga inti, peran utama dipegang oleh ayah ibu sebagai modelling karakter anak. Philips menegaskan
keluarga hendaknya menjadi sekolah untuk kasih sayang (school of love) yaitu tempat belajar yang penuh cinta
sejati dan kasih sayang.
Dari uraian di atas diketahui bahwa keluraga
berperan sebagai pondasi awal internalisasi karakter. Orang tua harus
mengupayakan agar rumah benar-benar terasa sebagai sekolah bagi anaknya, sehingga
tercipta suasana yang mendukung anak mendapatkan pengetahuan yang berguna bagi
dirinya.
Menilik berbagai pandangan di atas pendidikan
karakter mempunyai peran strategis dalam pembentukan watak, pembiasaan, dan
pemahaman peserta didik terhadap perilaku yang baik dan terpuji. Melihat
urgennya peran tersebut, maka model pendidikan karakter perlu diarahkan tidak
sekedar mengenalkan berbagai aturan dan definisinya, namun lebih menekankan
pada sikap, attitude, dan tanggung jawab.
Peran pendidikan karakter ini dapat berjalan dengan baik dan maksimal apabila
didukung seluruh komponen, utamanya keluarga sebagai tempat pendidikan pertama
dan utama bagi anak.[20]
H. Manfaat Pendidikan Karakter
Beberapa manfaat pendidikan karakter adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan
amal ibadah yang lebih baik dan khusyuk serta lebih ikhlas.
2. Meningkatkan
ilmu pengetahuan untuk meluruskan perilaku dalam kehidupan sebagai individu dan
anggota masyarakat.
3. Meningkatkan
kemampuan mengembangkan sumber daya diri agar lebih mandiri dan berprestasi.
4. Meningkatkan
kemampuan bersosialisasi, melakukan silaturahmi positif, dan membangun ukhuwah
atau persaudaraan dengan sesama manusia dan sesama muslim.
5. Meningkatkan
penghambaan jiwa kepada Allah yang menciptakan manusia, alam jagat raya beserta
isinya.
6. Meningkatkan
kepandaian bersyukur dan berterima kasih kepada Allah atas segala nikmat yang
telah diberikan-Nya tanpa batas dan tanpa pilih bulu.
7. Meningkatkan
strategi beramal shaleh yang dibangun oleh ilmu yang rasional, yang membedakan
antara orang-orang yang berilmu dengan orang yang taklid karena kebodohannya.
Demikian begitu besar
manfaat dari pendidikan karakter yang secara keseluruhan dapat diambil benang
merah yaitu untuk mengantarkan manusia menjadi insan kamil. Untuk mewujudkan
insan kamil, nilai-nilai yang dianut bersama dan menjadi komitmen yang kuat bersumber
dari agama, norma sosial, peraturan atau hukum yang dipadukan dengan nilai
budaya lokal. Kemudian secara total mengikat kehidupan batiniah sosial yang
terungkap secara integral dalam proses pendidikan karakter.[21]
I.
Kesimpulan
Pendidikan adalah suatu proses
pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha
mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran, pelatihan dan pendidikan. Pendidikan
pada hakikatnya adalah usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana dalam
upaya mengembangkan segala potensi manusia untuk memiliki kekuatan spiritual,
kecerdasan, dan akhlak mulia sehingga tumbuh dewasa dan sempurna sebagai bekal
yang diperlukan dalam kehidupan masyarakat, bangsa, dan Negara.
Pendidikan karakter adalah serangkaian usaha yang
dilakukan secara sadar dan terencana sehingga memunculkan kesadaran dalam diri
individu untuk mengembangkan segala potensi manusia sehingga memiliki kekuatan
spiritual, kecerdasan, dan akhlak mulia menuju kedewasaan dan kesempurnaan sebagai
bekal yang diperlukan dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara.
Maka pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang
dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik
memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha
Esa, diri sendiri, sesame manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud
dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan
norma-norma agama, hukum, tata karma, budaya, dan adat istiadat.
Pada intinya pendidikan karakter sangat urgen
diimplementasikan sebagai upaya pembentukan insan kamil yang memiliki kepekaan
sosial, akhlak karimah, dan mampu berperan aktif dalam menciptakan masyarakat
yang damai dan kondusif serta bangsa yang maju dan bermartabat.
DAFTAR
PUSTAKA
Asmani, Jamal Ma’mur, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah,
Yogyakarta: Diva Press, 2012.
Aunillah, Nurla Isna, Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter di Sekolah,
Yogyakarta: Laksana, 2011.
Aqib, Zainal, Pendidikan Karakter; Membangun Perilaku Positif Anak Bangsa,
Bandung: Yrama Widya, 2011.
Azra, Azyumardi, Paradigma Baru Pendidikan Nasional; Rekonstruksi dan Demokratisasi,
Jakarta: Kompas, 2002.
Barnawi & Arifin, M, Strategi dan Kebijakan Pembelajaran Pendidikan Karakter, Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media, 2013.
Departemen Agama RI, AlQur’an dan Terjemahnya, Bandung:
Diponegoro, 2010.
Hamid, Hamdani & Saebani,
Beni Ahmad, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, Bandung: Pustaka
Setia, 2013.
Hariwijaya, M, Panduan Mendidik dan Membentuk Watak Anak; Memahami Perilaku dan
Cara Berpikir Anak Masa Kini, Yogyakarta: Luna Publisher, 2010.
Latif, Yudi, Menyemai Karakter Bangsa; Budaya Kebangkitan Berbasis Kesastraan,
Jakarta: Kompas, 2009.
Marijan, Metode Pendidikan Anak; Membangun Karakter Anak yang Berbudi
Mulia, Cerdas, dan Berprestasi, Yogyakarta: Sabda Media, 2012.
Nashir, Haedar, Pendidikan Karakter Berbasis Agama dan Budaya,
Yogyakarta: Multi Presindo, 2013.
Saptono, Dimensi-dimensi Pendidikan Karakter; Wawasan, Strategi, dan
Langkah Praktis, Jakarta: Esensi Erlangga Group, 2011.
Wibowo, Agus, Pendidikan Karakter, Strategi Membangun Karakter Bangsa
Berperadaban, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012.
[1] Jamal Ma’mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah
(Yogyakarta: Diva Press, 2012), 7.
[2] Barnawi & M.
Arifin, Strategi dan Kebijakan Pembelajaran Pendidikan Karakter (Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media, 2013), 5.
[3] Azyumardi Azra, Paradigma Baru Pendidikan Nasional; Rekonstruksi dan Demokratisasi
(Jakarta: Kompas, 2002), 172-173.
[4] Marijan, Metode Pendidikan Anak; Membangun Karakter Anak yang Berbudi
Mulia, Cerdas, dan Berprestasi (Yogyakarta: Sabda Media, 2012), 85.
[5] M.Hariwijaya, Panduan Mendidik dan Membentuk Watak Anak; Memahami Perilaku dan
Cara Berpikir Anak Masa Kini (Yogyakarta: Luna Publisher, 2010), 18.
[6] Agus Wibowo, Pendidikan Karakter, Strategi Membangun Karakter Bangsa
Berperadaban (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2012), 8-10.
[8] Saptono, Dimensi-dimensi Pendidikan Karakter; Wawasan, Strategi, dan
Langkah Praktis (Jakarta: Esensi Erlangga Group, 2011), 16-17.
[9] Yudi Latif, Menyemai Karakter Bangsa; Budaya Kebangkitan Berbasis Kesastraan
(Jakarta: Kompas, 2009), 88.
[10] Haedar Nashir, Pendidikan Karakter Berbasis Agama dan Budaya (Yogyakarta:
Multi Presindo, 2013), 7.
[15] Zainal
Aqib, Pendidikan Karakter; Membangun Perilaku Positif Anak Bangsa
(Bandung: Yrama Widya, 2011), 34-36.
[17] Asmani. Buku Panduan, 64.
[18] Hamdani
Hamid & Beni Ahmad Saebani, Pendidikan Karakter Perspektif
Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2013), 81.
[20] Nurla Isna Aunillah, Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter di Sekolah
(Yogyakarta: Laksana, 2011), 161.
Makalah Pendidikan Karakter Dalam Prespektif Islam
4/
5
Oleh
Moch Nur Jamil
