Monday, April 9, 2018

Makalah Pendidikan Karakter Dalam Prespektif Islam



 
PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PERSPEKTIF ISLAM
MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Studi Al Qur’an
Dosen Pembimbing:
Prof. Dr. H. Moch Tolchah, M.Ag

Oleh :

EDWIN FIRMANSYAH                    (F02317072)


PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2017
PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PERSPEKTIF ISLAM

EDWIN FIRMANSYAH 
NIM : F02317072
Kata Kunci: Pendidikan, Karakter, Islam
Abstrak
Pendidikan semakin urgen untuk diperhatikan, terutama pendidikan karakter bangsa. Pendidikan adalah sebagai modal dasar bagi peserta didik untuk menghadapi dunianya kelak. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan yang utuh dan menyeluruh dengan mengedepankan tiga aspek penting yaitu kognitif, psikomotorik, dan afektif. Pendidikan perlu aplikatif memanusiakan manusia dengan tidak menitikberatkan pada penguasaan satu aspek saja namun berimbang dan saling melengkapi, terutama aspek pengembangan dan internalisasi karakter.
Pendidikan karakter adalah suatu upaya baru yang dicanangkan pemerintah guna meraih dan menghasilkan generasi-genarasi masa depan yang prestatif dan berbudi luhur. pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesame manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata karma, budaya, dan adat istiadat.

Education is increasingly urgent to note, especially character education of the nation. Education is as a basic capital for learners to face the world someday. Education in question is a whole and comprehensive education by promoting three important aspects of cognitive, psychomotor, and affective. Education needs to be applicable to humanize human beings by not focusing on the mastery of one aspect only but balanced and complementary, especially aspects of character development and internalization.
Character education is a new effort launched by the government to achieve and produce future generations that are prestatif and virtuous. character education is a systematically designed and executed effort to help learners understand the values ​​of human behavior associated with God Almighty, self, fellow human, environment, and nationality embodied in thoughts, attitudes, feelings, words , and deeds based on norms of religion, law, order karma, culture, and customs.
A.    Pendahuluan
Era globalisasi telah membawa dampak luas di belahan bumi mana pun, tak terkecuali di negeri Indonesia. Dampak globalisasi diibaratkan seperti pisau bermata dua, positif dan negatif memiliki konsekuensi yang seimbang. Kompetisi, integrasi, dan kerjasama adalah dampak positif globalisasi. Sedangkan dampak negatif antara lain lahirnya generasi instan, dekadensi moral, konsumerisme, bahkan permisifisme.[1] Selain itu dampak negatif lainnya adalah muncul tindakan kekerasan, penyalahgunaan obat-obat terlarang, seks bebas, dan kriminalitas. Semua hal negatif tersebut berujung pada hilangnya karakter bangsa.[2]
Gaya hidup hedonistik dan permisif di era globalisasi sebagaimana banyak ditayangkan dalam telenovela dan sinetron pada berbagai saluran televisi Indonesia, hanya mempercepat disorientasi dan dislokasi keluarga dan rumah tangga.[3] Akibatnya banyak anak tidak memiliki kebajikan dan inner beauty dalam karakternya, namun mengalami kepribadian terbelah (split personality). Hal tersebut juga berdampak terhadap banyaknya anak yang tidak patuh kepada orang tua, secara frontal dapat dicontohkan seorang anak tega menghabisi orang tuanya gara-gara permintaan sebuah sepeda motor yang tidak dituruti.[4] Fenomena anak yang sering membantah dan berkeinginan menguasai orang dewasa tersebut dapat menjadi candu layaknya narkoba.
Jika dilihat dalam konteks pendidikan banyak perilaku tidak bermoral terjadi, antara lain kasus tawuran antar pelajar di beberapa sekolah, beredarnya video mesum yang pelakunya adalah siswa, penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang lainnya, bahkan beberapa remaja putri rela menjual “kegadisan” demi untuk membeli handphone (HP), membeli pakaian bagus atau mentraktir teman.[5] Berdasarkan data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI, 2003) menyatakan sebanyak 32% remaja usia 14 hingga 18 tahun di kota-kota besar Indonesia (Jakarta, Surabaya, dan Bandung) pernah berhubungan seks. Kasus lain berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN) hingga tahun 2008 pengguna narkoba di Indonesia mencapai 3,2 juta orang. Dari jumlah ini 32% adalah pelajar dan mahasiswa.[6] Kondisi tersebut menggambarkan tentang pentingnya gagasan tentang diskursus pendidikan budi pekerti atau karakter untuk direkonseptualisasi kembali. Karena terlihat pendidikan nasional pada setiap jenjang, khususnya jenjang menengah dan tinggi “telah gagal” dalam membentuk peserta didik yang memiliki akhlak, moral, dan budi pekerti yang baik. Pendidikan semakin urgen untuk diperhatikan, terutama pendidikan karakter bangsa. Pendidikan adalah sebagai modal dasar bagi peserta didik untuk menghadapi dunianya kelak. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan yang utuh dan menyeluruh dengan mengedepankan tiga aspek penting yaitu kognitif, psikomotorik, dan afektif. Pendidikan perlu aplikatif memanusiakan manusia dengan tidak menitikberatkan pada penguasaan satu aspek saja namun berimbang dan saling melengkapi, terutama aspek pengembangan dan internalisasi karakter.

B.     Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter adalah suatu upaya baru yang dicanangkan pemerintah guna meraih dan menghasilkan generasi-genarasi masa depan yang prestatif dan berbudi luhur. Pendidikan karakter berasal dari dua suku kata, pendidikan dan karakter. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pendidikan adalah suatu proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran, pelatihan dan pendidikan. Sedangkan istilah karakter secara harfiah berasal dari bahasa Latin “charakter”, ialah sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku, seperti watak, tabiat, sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti, kepribadian atau akhlak yang menjadi ciri khas seseorang. Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana dalam upaya mengembangkan segala potensi manusia untuk memiliki kekuatan spiritual, kecerdasan, dan akhlak mulia sehingga tumbuh dewasa dan sempurna sebagai bekal yang diperlukan dalam kehidupan masyarakat, bangsa, dan Negara.[7]
Secara bahasa karakter berasal dari bahasa Yunani karasso yang berarti cetak biru, format dasar, atau sidik seperti dalam sidik jari. Pendapat lain menyatakan berasal dari kata charassein yang berarti membuat tajam atau membuat dalam. Secara istilah karakter dipahami sebagai kondisi rohaniah yang belum selesai. Sehingga memungkinkan untuk dibentuk dan dikembangkan menjadi lebih baik. Agar kondisi rohaniah menjadi lebih baik dibangun melalui kesadaran dalam diri individu.
Dari pengertian tentang pendidikan dan karakter di atas dapat dipahami bahwa pengertian pendidikan karakter adalah serangkaian usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana sehingga memunculkan kesadaran dalam diri individu untuk mengembangkan segala potensi manusia sehingga memiliki kekuatan spiritual, kecerdasan, dan akhlak mulia menuju kedewasaan dan kesempurnaan sebagai bekal yang diperlukan dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Maka pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesame manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata karma, budaya, dan adat istiadat.
C.    Urgensi Pendidikan Karakter
Arnold Toynbee, sejarawan ternama, pernah mengungkapkan dari dua puluh satu peradaban dunia yang dapat dicatat, sembilan belas hancur bukan karena penaklukan dari luar, melainkan karena pembusukan moral dari dalam yaitu karena lemahnya karakter. Pernyataan Arnold tampaknya telah lama disadari para founding father bangsa Indonesia, jauh-jauh hari para genius pendiri bangsa Indonesia telah menyadari betapa urgen pembangunan karakter. Hal ini terlihat dari lagu kebangsaan Indonesia Raya, di dalam lirik lagu tersebut ditandaskan pentingnya perintah untuk “bangunlah jiwanya” baru kemudian “bangunlah badannya”. Seruan ini mengisyaratkan pesan bahwa membangun jiwa lebih diutamakan daripada membangun badan, membangun karakter mesti lebih diperhatikan daripada sekadar membangun hal-hal fisik semata.[8]
Pentingnya membangun jiwa (karakter) harus disertai pengetahuan dan pemahaman tentang moral atau karakter itu sendiri. Hal ini dipahami bahwa pertautan pengetahuan moral (moral judgement) dengan perilaku aktual (actual conduct) dalam situasi konkret (moral situations) adalah benar bahwa pengetahuan dan pemahaman moral adalah prasyarat bagi munculnya tindakan moral.[9]
Pada intinya pendidikan karakter sangat urgen diimplementasikan sebagai upaya pembentukan insan kamil yang memiliki kepekaan sosial, akhlak karimah, dan mampu berperan aktif dalam menciptakan masyarakat yang damai dan kondusif serta bangsa yang maju dan bermartabat. Pendidikan karakter harus diletakkan secara keseluruhan dengan pembangunan karakter bangsa (nation and character building) dan dalam hal ini lembaga pendidikan memiliki peran penting sebagai bagian pembangunan bangsa.[10]

D.    Fungsi dan Tujuan Pendidikan Karakter
Berbicara tentang fungsi dan tujuan pendidikan karakter, hal ini tidak terlepas dari fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang tertuang secara apik dan bijaksana dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Termaktub dalam bab II pasal 3 dinyatakan pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yag bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Fungsi dan tujuan pendidikan karakter memiliki andil yang sangat besar dalam menentukan arah dan sebagai pedoman internalisasi karakter. Dengan fungsi dan tujuan tersebut diikhtiarkan terwujud insan kamil yang mempunyai posisi mulia di sisi Allah SWT. Secara garis besar pendidikan karakter merupakan jalan dalam mewujudkan masyarakat beriman dan bertaqwa yang senantiasa berjalan di atas kebenaran dengan menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, kebaikan, musyawarah, serta nilai-nilai humanisme yang mulia.
Tujuan dari pendidikan karakter menurut Islam yang tidak lain adalah untuk menjadikan manusia yang berakhlak mulia. Dalam hal ini yang menjadi tolok ukur adalah akhlak Nabi Muhammad SAW dan yang menjadi dasar pembentukan karakter adalah al-Quran. Tetapi kita kita harus menyadari tidak ada manusia yang menyamai akhlaknya dengan Nabi Muhammad SAW. Al-Quran adalah petunjuk bagi umat Islam. Seperti yang telah disinggung di atas bila kita hendak mengarahkan pendidikan kita dan menumbuhkan karakter yang kuat pada anak didik, kita harus mencontoh karakter Nabi Muhammad SAW yang memiliki karakter yang sempurna.
Firman Allah dalam QS. Al Luqman 31 : 12

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Artinya: Dan Sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, Yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".[11]

Dalam ayat tersebut Allah menerangkan bahwa Allah menganugrahkan  kepada lukman hikmah ,yaitu perasaan yang halus ,akal pikiran dan pengetahuan yang dengan itu ia telah sampai kepada pengetahuan yang hakiki dan jalan yang benar yang dapat menyampaikanya kepada kebahagiaan yang abadi.
Ayat tersebut juga menegaskan kepada kita bahwa rasa syukur bukan semata-mata kita bersyukur kepada Allah akan tetapi sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri, karena Allah tidak akan merasa rugi jika kita tidak bersyukur padanya melainkan kita lah yang rugi.dan ayat tersebut juga sebagai tanda bahwa lukman adalah hamba Allah yang selalu taat kepadanya, merasakan kebesaran dan kekuasaan Nya di alam semesta ini.
Firman Allah dalam QS. Al Luqman 31 : 13

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Artinya: Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".[12]
Ayat  tersebut  menjelaskan bahwa  mempersekutukan Allah dan rasulnya dikatakan kedzaliman yang besar karena perbuatan ini menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, yaitu menamakan nikamat dan karunia itu,dalam hal ini menyamakan Allah SWT sebagai sumber nikmat dan karunia  dengan berhala atau patung-patung yang tidak bisa berbuat apapun. Dikatakan bahwa perbuatan itu adalah kedzaliman yang besar, karena yang disamakan itu ialah Allah pencipta dan penguasa alam semesta, yang seharusnya semua makhluk mengabdi dan menghambakan diri kepada Nya.
Serta dapat dipahami bahwa diantara kewajiban ayah adalah memberikan nasihat dan pelajaran, sehingga anak-anak nya itu dapat menempuh jalan yang benar ,dan menjauhkan diri dari kesesatan,anak adalah sambungan hidup dari orang tua nya ,cita-cita yang tidak mungkin dapat di capai orang tua selama hidup di dunia.
Selanjutnya Luqman mengajarkan kepada putranya tentang kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan kepada Allah. Kewajiban pertama: mendirikan shalat.  Ibnu Katsir menafsirkan aqim ash- shalah dengan melaksanakannya tepat waktu dan sesuai dengan ketentuan-ketentuan, syarat-syarat, dan rukun-rukunnya.
Sedangkan ash-Shabuni menambahkan, yaitu dengan memelihara kekhusyukannya.  Kewajiban kedua: amar makruf nahi mungkar, yakni memerintahkan kepada manusia untuk melakukan setiap kebaikan dan keutamaan serta melarang  mereka dari setiap perbuatan buruk.  Kewajiban ketiga: bersabar, yakni bersabar terhadap gangguan, rintangan, ujian, bahaya, dan bencana yang menimpa karena menjalankan amar makruf nahi mungkar.  Ibn Abbas berkata, “Di antara hakikat iman adalah bersabar.”
Firman Allah dalam QS. Al Luqman 31 : 14
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Artinya: Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.[13]
Ayat tersebut menegaskan kepada manusia agar berbakti kepada kedua orang tuanya, dengan mencontoh dan melaksanakan haknya pada ayat lain juga Allah memerintahkan hak demikian sebagai contoh dalam Q.S. Al-Isra’ :23

۞ وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Artinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia.[14]
Dan  menjelaskan bahwa manusia diperintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya sebagai wujud rasa syukur atas pemeliharaan keduanya, terutama ibu. Dia  telah mengandungnya sejak janin di dalam kandungan; setiap bertambah usia dan besar janin, semakin bertambah lemahlah dia dan semakin bertambah sulit pula (untuk bergerak). Demikian pula ketika melahirkan, seorang ibu dengan susah-payah mengeluarkan bayinya dari rahimnya. Setelah itu, ibu menyusui bayinya selama dua tahun.  Ibn Jaza menafsirkan:
Ungkapan hamalathu ummuhu wahn[an] ‘alâ wahnin wa fishâluhu fî ‘âmayni adalah untuk menjelaskan bahwa hak ibu lebih besar dari pada bapak. Akan tetapi, rasa syukur kepada Allah harus di atas segalanya.  Sebab, kepada-Nya- lah tempat kembali seseorang, termasuk kedua orangtuanya.  Allah-lah yang memberi balasan yang baik kepada orang yang berbuat baik dan balasan yang buruk kepada orang yang berbuat buruk. Karena itu, sekalipun keduanya telah bersusah-payah memeliharamu, kalau mereka mengajakmu pada kekufuran dan perbuatan syirik, janganlah kamu mengikutinya, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah. Hanya saja, sekalipun demikian, engkau tetap menggauli mereka dengan baik serta senantiasa berlaku sopan dan hormat kepada mereka.
Kemudian dalam ayat Q.S Lukman:14  ini juga hanya di sebutkan apa sebab-sebab di perintahkanya berbut baik kepada ibu,tidak di sebutkan apa sebabanya seorang anak harus menaati dan berbuat baik kepada bapak nya.hal ini menunjukan bahwa kesukaran dalam mengandung ,memelihara dan mendididk anaknya jauh lebih berat bila di bandingkan dengan yang di alami  bapak.
Nabi sendiri memerintahkan agar seseorang anak lebih mendahulukan berbuat baik kepada ibunya dari pada kepada bapak nya.adapun tentang lamanya menyusui anak, maka Al-quran memerintahkan agar seorang ibu menyusui anaknya paling lama dalam masa dua tahun sebagai mana  yang di terangkan ayat tersebut. Pada akhir ayat ini Allah SWT memperingatkan bahwa manusia akan kembali padaNya bukan kepada orang  lain. Pada saat itu dia akan memberikan pembalasan yang adil kepada hamba-hambaNya .[15]

E.     Prinsip Pendidikan Karakter
Sukses pendidikan karakter berdasar prinsip bergantung kepada semua elemen pendidikan, dari individu secara pribadi, keluarga, seluruh personel sekolah, dan masyarakat. Tanpa adanya sinergi dari semua elemen, pendidikan karakter sulit terealisasikan. Prinsip yang berbeda sebagai langkah awal dari membangun karakter, hal ini dapat dilakukan dengan mempertimbangkan rumus 5 + 3 + 3 atau 11 kebiasaan sebagai berikut :
Lima sikap dasar
1.         Membangun sikap dasar dan tulus dengan berani mengatakan apa yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah.
2.         Sikap yang terbuka yang merefleksikan kebersihan luar dalam.
3.         Berani mengambil resiko dan bertanggungjawab yang ditunjukkan dengan membela kebenaran dan keadilan.
4.         Konsisten terhadap komitmen dengan selalu menepati janji, perkataan harus sesuai dengan perbuatan.
5.         Sikap bersedia berbagi (sharing) yang menampilkan mentalitas berkelimpahan (abundance mentality).
Tiga syarat
1.         Dengan niat yang bersih untuk mengawali setiap pekerjaan (nawaitu).
2.         Tidak mendahului kehendak Tuhan agar apa yang kita rencanakan mendapat ridho-Nya.
3.         Bersyukur kepada-Nya atas hasil apa pun yang kita dapat, baik yang kita senangi maupun yang tidak kita senangi dan inginkan.[16]
Tiga cara
1.         Mencanangkan hasrat untuk berubah melalui doa dan ibadah, karena hakikat dari doa adalah tuntunan terhadap diri sendiri untuk mewujudkan perubahan.
2.         Mewujudkan perubahan dengan memanfaatkan empat anugerah Ilahi pada manusia (self awarness, consciousness, imagination, dan independent will).
3.         Siap menjadi suri tauladan dalam menjalani amanah Tuhan, yaitu manusia sebagai khalifah di muka bumi. Menjadi khalifah tidak dimungkinkan tanpa memberi suri tauladan.
Dari rumus di atas dapat dijelaskan lima sikap dasar merupakan awal dari pembangunan karakter dan jati diri kita. Kemudian dari lima dasar tersebut yang telah memenuhi tiga syarat agar menjadi satu kesatuan yang utuh harus dilakukan secara eksplisit dengan melengkapi tiga cara. Setelah semua terpenuhi akan terwujud insan kamil yang berkepribadian dan berakhlak karimah. Insan tersebut bertugas menjalankan amanah dari Allah SWT sebagai khalifah yang mengelola dan memakmurkan bumi.
Prinsip-prinsip pendidikan karakter adalah sebagai pegangan dan acuan dalam pelaksanaan pendidikan karakter. Prinsip-prinsip tersebut bukan hal paten, sehingga dapat diubah sesuai dengan tujuan lokalitas masing-masing daerah. Hal yang menjadi tolok ukur adalah prinsip tersebut sesuai dengan fungsi dan tujuan luhur pendidikan karakter.
F.     Jenis Pendidikan Karakter
Terdapat berbagai jenis pendidikan karakter dan ada empat jenis karakter yang dikenal dan dilaksanakan dalam proses pendidikan, yaitu sebagai berikut[17]:
1.      Pendidikan karakter berbasis nilai religius yang merupakan kebenaran wahyu Tuhan (konservasi moral).
2.      Pendidikan karakter berbasis nilai budaya, misalnya berupa budi pekerti, pancasila, apresiasi sastra, keteladanan tokoh sejarah, dan lainnya.
3.      Pendidikan karakter berbasis lingkungan (konservasi lingkungan).
4.      Pendidikan karakter berbasis potensi diri, yaitu sikap pribadi, hasil proses kesadaran pemberdayaan potensi diri yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan (konservasi humanis).
Sedangkan dalam tema Islam, secara definitif karakter memiliki makna yang hampir sama dengan akhlak. Dalam perspektif ilmu, karakter terbagi menjadi empat macam yaitu:
1.      Karakter falsafi atau karakter teoritis, yaitu menggali kandungan Al-Qur’an dan As-Sunnah secara mendalam, rasional, dan kontemplatif untuk dirumuskan sebagai teori dalam bertindak.
2.      Karakter amali, artinya akhlak praktis, yaitu akhlak dalam arti yang sebenarnya, berupa perbuatan atau sedikit bicara, banyak bekerja.
3.      Karakter fardhi atau akhlak individu, yaitu perbuatan seorang manusia yang tidak terkait dengan orang lain.
4.      Karakter kelompok atau akhlak jamaah, yaitu tindakan yang disepakati bersama-sama, misalnya akhlak organisasi, partai politik, masyarakat yang normatif, dan lainnya.[18]
Pembagian jenis-jenis pendidikan karakter tersebut menjadikan pendidikan senantiasa hidup di level individu, kelompok, sosial, lingkungan, peradaban, dan agama. Pembagian jenis karakter bertujuan untuk memudahkan dalam pemahaman pendidikan karakter.[19]
G.    Peran Pendidikan Karakter
Terdapat beberapa elemen penting yang berperan dalam pelaksanaan pendidikan karakter. Antara lain keluarga, semua komponen sekolah, pemimpin, dan media massa. Keluarga berperan sebagai basis pendidikan karakter, keluarga merupakan komunitas pertama yang mengajarkan manusia sejak dini tentang baik buruk, pantas tidak pantas, dan benar salah. Keluarga merupakan rumah pertama seorang manusia belajar tata nilai atau moral. Pada keluarga inti, peran utama dipegang oleh ayah ibu sebagai modelling karakter anak. Philips menegaskan keluarga hendaknya menjadi sekolah untuk kasih sayang (school of love) yaitu tempat belajar yang penuh cinta sejati dan kasih sayang.
Dari uraian di atas diketahui bahwa keluraga berperan sebagai pondasi awal internalisasi karakter. Orang tua harus mengupayakan agar rumah benar-benar terasa sebagai sekolah bagi anaknya, sehingga tercipta suasana yang mendukung anak mendapatkan pengetahuan yang berguna bagi dirinya.
Menilik berbagai pandangan di atas pendidikan karakter mempunyai peran strategis dalam pembentukan watak, pembiasaan, dan pemahaman peserta didik terhadap perilaku yang baik dan terpuji. Melihat urgennya peran tersebut, maka model pendidikan karakter perlu diarahkan tidak sekedar mengenalkan berbagai aturan dan definisinya, namun lebih menekankan pada sikap, attitude, dan tanggung jawab. Peran pendidikan karakter ini dapat berjalan dengan baik dan maksimal apabila didukung seluruh komponen, utamanya keluarga sebagai tempat pendidikan pertama dan utama bagi anak.[20]

H.    Manfaat Pendidikan Karakter
Beberapa manfaat pendidikan karakter adalah sebagai berikut:
1.      Meningkatkan amal ibadah yang lebih baik dan khusyuk serta lebih ikhlas.
2.      Meningkatkan ilmu pengetahuan untuk meluruskan perilaku dalam kehidupan sebagai individu dan anggota masyarakat.
3.      Meningkatkan kemampuan mengembangkan sumber daya diri agar lebih mandiri dan berprestasi.
4.      Meningkatkan kemampuan bersosialisasi, melakukan silaturahmi positif, dan membangun ukhuwah atau persaudaraan dengan sesama manusia dan sesama muslim.
5.      Meningkatkan penghambaan jiwa kepada Allah yang menciptakan manusia, alam jagat raya beserta isinya.
6.      Meningkatkan kepandaian bersyukur dan berterima kasih kepada Allah atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya tanpa batas dan tanpa pilih bulu.
7.      Meningkatkan strategi beramal shaleh yang dibangun oleh ilmu yang rasional, yang membedakan antara orang-orang yang berilmu dengan orang yang taklid karena kebodohannya.
Demikian begitu besar manfaat dari pendidikan karakter yang secara keseluruhan dapat diambil benang merah yaitu untuk mengantarkan manusia menjadi insan kamil. Untuk mewujudkan insan kamil, nilai-nilai yang dianut bersama dan menjadi komitmen yang kuat bersumber dari agama, norma sosial, peraturan atau hukum yang dipadukan dengan nilai budaya lokal. Kemudian secara total mengikat kehidupan batiniah sosial yang terungkap secara integral dalam proses pendidikan karakter.[21]


















I.       Kesimpulan
Pendidikan adalah suatu proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran, pelatihan dan pendidikan. Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana dalam upaya mengembangkan segala potensi manusia untuk memiliki kekuatan spiritual, kecerdasan, dan akhlak mulia sehingga tumbuh dewasa dan sempurna sebagai bekal yang diperlukan dalam kehidupan masyarakat, bangsa, dan Negara.
Pendidikan karakter adalah serangkaian usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana sehingga memunculkan kesadaran dalam diri individu untuk mengembangkan segala potensi manusia sehingga memiliki kekuatan spiritual, kecerdasan, dan akhlak mulia menuju kedewasaan dan kesempurnaan sebagai bekal yang diperlukan dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Maka pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesame manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata karma, budaya, dan adat istiadat.
Pada intinya pendidikan karakter sangat urgen diimplementasikan sebagai upaya pembentukan insan kamil yang memiliki kepekaan sosial, akhlak karimah, dan mampu berperan aktif dalam menciptakan masyarakat yang damai dan kondusif serta bangsa yang maju dan bermartabat.
DAFTAR PUSTAKA
Asmani, Jamal Ma’mur, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah, Yogyakarta: Diva Press, 2012.

Aunillah, Nurla Isna, Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter di Sekolah, Yogyakarta: Laksana, 2011.

Aqib, Zainal, Pendidikan Karakter; Membangun Perilaku Positif Anak Bangsa, Bandung: Yrama Widya, 2011.

Azra, Azyumardi, Paradigma Baru Pendidikan Nasional; Rekonstruksi dan Demokratisasi, Jakarta: Kompas, 2002.

Barnawi & Arifin, M, Strategi dan Kebijakan Pembelajaran Pendidikan Karakter, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2013.

Departemen Agama RI, AlQur’an dan Terjemahnya, Bandung: Diponegoro, 2010.

Hamid, Hamdani & Saebani, Beni Ahmad, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2013.

Hariwijaya, M, Panduan Mendidik dan Membentuk Watak Anak; Memahami Perilaku dan Cara Berpikir Anak Masa Kini, Yogyakarta: Luna Publisher, 2010.

Latif, Yudi, Menyemai Karakter Bangsa; Budaya Kebangkitan Berbasis Kesastraan, Jakarta: Kompas, 2009.

Marijan, Metode Pendidikan Anak; Membangun Karakter Anak yang Berbudi Mulia, Cerdas, dan Berprestasi, Yogyakarta: Sabda Media, 2012.

Nashir, Haedar, Pendidikan Karakter Berbasis Agama dan Budaya, Yogyakarta: Multi Presindo, 2013.

Saptono, Dimensi-dimensi Pendidikan Karakter; Wawasan, Strategi, dan Langkah Praktis, Jakarta: Esensi Erlangga Group, 2011.

Wibowo, Agus, Pendidikan Karakter, Strategi Membangun Karakter Bangsa Berperadaban, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012.


[1] Jamal Ma’mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah (Yogyakarta: Diva Press, 2012), 7.
[2] Barnawi & M. Arifin, Strategi dan Kebijakan Pembelajaran Pendidikan Karakter (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), 5.
[3] Azyumardi Azra, Paradigma Baru Pendidikan Nasional; Rekonstruksi dan Demokratisasi (Jakarta: Kompas, 2002), 172-173.
[4] Marijan, Metode Pendidikan Anak; Membangun Karakter Anak yang Berbudi Mulia, Cerdas, dan Berprestasi (Yogyakarta: Sabda Media, 2012), 85.
[5] M.Hariwijaya, Panduan Mendidik dan Membentuk Watak Anak; Memahami Perilaku dan Cara Berpikir Anak Masa Kini (Yogyakarta: Luna Publisher, 2010), 18.
[6] Agus Wibowo, Pendidikan Karakter, Strategi Membangun Karakter Bangsa Berperadaban  (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), 8-10.
[7] Ibid., 15.
[8] Saptono, Dimensi-dimensi Pendidikan Karakter; Wawasan, Strategi, dan Langkah Praktis (Jakarta: Esensi Erlangga Group, 2011), 16-17.
[9] Yudi Latif, Menyemai Karakter Bangsa; Budaya Kebangkitan Berbasis Kesastraan (Jakarta: Kompas, 2009), 88.
[10] Haedar Nashir, Pendidikan Karakter Berbasis Agama dan Budaya (Yogyakarta: Multi Presindo, 2013), 7.
[11] Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: Diponegoro, 2010), 420.
[12] Ibid., 422.
[13] Ibid., 425.
[14] Ibid., 237.
[15] Zainal Aqib, Pendidikan Karakter; Membangun Perilaku Positif Anak Bangsa (Bandung: Yrama Widya, 2011), 34-36.
[16] Latif, Menyemai Karakter Bangsa, 97.
[17] Asmani. Buku Panduan, 64.
[18] Hamdani Hamid & Beni Ahmad Saebani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2013), 81.
[19] Ibid., 97.
[20] Nurla Isna Aunillah, Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter di Sekolah (Yogyakarta: Laksana, 2011), 161.
[21] Hamdani Hamid & Beni Ahmad Saebani. Pendidikan Karakter, 92-93.

Related Posts

Makalah Pendidikan Karakter Dalam Prespektif Islam
4/ 5
Oleh

Makalah Pendidikan Karakter Dalam Prespektif Islam

  PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PERSPEKTIF ISLAM MAKALAH Diajukan untuk memenuhi tugas mata ku...